Pencapaian Pencerahan Buddha Siddhattha Gautama

Spiritual, Pil Motivasi - Sejarah Pencapaian Pencerahan Buddha Siddhattha Gautama

Pada awal usia enam belas tahun, ia menikahi seorang putri yang cantik bernama Yasodhara yang berusia sama. Selama hampir tiga belas tahun, setelah pernikahan yang bahagia, Ia menjalani kehidupan mewah dan bahagia tanpa mengetahui perubahan-perubahan kehidupan yang terjadi di luar gerbang istana.

Ayah Sang Pangeran, Raja Suddhodana, yang tidak menginginkan Sang Pangeran menjalani hidup untuk menjadi petapa, berusaha untuk memberikan segala kesenangan duniawi, agar keinginan untuk menjadi petapa tidak akan pernah muncul dalam benak Pangeran Siddhattha Gautama. Sang Raja bahkan berusaha menghindarkan Sang Pangeran untuk melihar orang tua renta, orang sakit, orang yang meninggal dan melihat petapa.

Namun pada suatu ketika Sang Pangeran memutuskan untuk keluar mengunjungi rakyatnya, dimana Sang Pangeran melihat realita kehidupan manusia yang tidak akan lepas dari sakit, menjadi tua dan meninggal. Setelah melihat kenyataan ini, Sang Pangeran pulang dengan perasaan gelisah dan bertekad untuk mencari jalan keluar bagi semua manusia agar terlepas dari penderitaan akibat sakit, tua dan mati. Pada lain kesempatan, Sang Pangeran Siddhattha Gautama melihat seorang petapa yang sedang berjalan dengan tenang dan damai. Setelah melihat seorang petapa tersebut, muncullah keinginan dari benak Sang Pangeran untuk menjalani kehidupan sebagai seorang petapa guna mencari jalan menuju kebahagiaan sejati.

Menyadari tidak berharganya kesenangan indera, yang sangat diagung-agungkan oleh makhluk-makhluk yang belum tercerahkan dan menghargai nilai pelepasan dimana para bijak mencari kebahagiaan, Ia memutuskan untuk meninggalkan kehidupan rumah tangga demi mencari kebenaran dan kedamaian abadi. 

Ketika keputusan akhir ini diambil setelah melalui banyak pertimbangan, berita tentang kelahiran seorang putra disampaikan kepada-Nya saat Dia akan meninggalkan istana. Bersamaan dengan munculnya tekad untuk bertapa, berita tentang kelahiran anak-Nya menjadi beban yang menghalangi batin-Nya. Seorang ayah dalam kondisi biasa akan bergembira atas peristiwa ini, tetapi Pangeran Siddhattha meski berat menetapkan hati-Nya demi kepentingan semua makhluk berseru "Sebuah penghalang (Rahu) telah lahir, belenggu telah timbul". Maka dinamailah putra-Nya dengan nama Rahula.

Istana bukan lagi menjadi tempat yang menyenangkan bagi Pangeran Siddhattha Gautama yang penuh kontemplatif. Baik istri-Nya yang menawan maupun anak bayi yang dicintai tidak bisa mempengaruhi-Nya untuk mengubah keputusan yang telah diambil untuk meninggalkan kehidupan berumah tangga. Dia memutuskan untuk melakukan sesuatu yang jauh lebih penting dan bermanfaat daripada sekedar menjadi seorang suami dan ayah, atau bahkan menjadi raja diraja. Daya pikat istana tidak lagi merupakan obyek kenikmatan bagi-Nya, sebab waktunya sudah matang untuk berangkat.

Ia memerintahkan kusir kesayangannya Channa untuk memasangkan pelana pada Kanthaka, kuda kesayangan-Nya dan pergi ke kamar yang ditempati oleh sang putri - istri Pangeran. Setelah membuka pintu kamar, ia berdiri di depan pintu memandang untuk terakhir kalinya istri dan anak-Nya yang sedang tidur nyenyak.

Welas asih-Nya bagi dua orang tersayang pada saat perpisahan ini sangat besar. Demikian juga welas asih-Nya terhadap penderitaan manusia. Dia tidak khawatir tentang masa depan kebahagiaan duniawi dan kenyamanan istri dan anak-Nya, karena meraka memiliki segala sesuatu dengan berkelimpahan dan akan dilindungi dengan baik. Sang Pangeran meninggalkan semua yang disayangi-Nya, pergi dari istana di tengah malam dengan hati yang ringan dan hilang di tengah kegelapan malam, hanya didampingi seorang kusir setia-Nya. Sendirian dan tanpa membawa harta / perhiasan. Ia berangkat untuk mencari kebenaran dan kedamaian.

Demikianlah ia melepaskan kehidupan rumah tangga. Hal ini bukanlah pelepasan dari seorang yang kenyang dengan kehidupan duniawi, bukan pula pelepasan seorang miskin yang benar-benar tidak mempunyai apapun untuk ditinggalkan. Ini adalah pelepasan seorang Pangeran muda yang tengah berkembang, penuh dengan kekayaan dan kemakmuran, suatu pelepasan yang tak tertandingi dalam sejarah. Pada usia 29 tahun. Pangeran Siddhattha Gautama memulai perjalanan bersejarah ini.

Pada awal pertapaan Sang Petapa Gautama, Beliau belajar dari kedua guru petapa yang terkenal pada saat itu, yaitu Alara Kalama dan Uddaka Ramaputta. Beliau dengan cepat menguasai ajaran dari kedua guru-Nya tersebut. Namun Sang Petapa Gautama menyadari bahwa pencapaian-Nya belumlah menjawab kegelisahan hati-Nya tentang mengapa manusia harus mengalami rasa sakit, tua dan mati.

Karena itulah, Sang Petapa Gautama memutuskan untuk meneruskan perjalanan serta melanjutkan mencari jawaban dengan cara-Nya sendiri. Pada masa itu, terdapat kepercayaan bahwa jasmani adalah penghambat dalam pencapaian spiritual seseorang. Oleh sebab itu kemudian Petapa Gautama memutuskan untuk pertapaan keras yang ekstrem selama 6 tahun. Berdasarkan pemahaman ini, Petapa Gautama menjalani pertapaan dengan mengabaikan jasmani, serta tidak makan dan minum. Hal ini membuat badan Beliau melemah dan kurus, hingga terlihat seperti tengkorak. Pada saat Beliau sadar bahwa semakin keras Beliau melakukan penyiksaan diri semakin jauh diri-Nya dari tujuan pencerahan dan dan hampir merenggut nyawa-Nya.

Buddha Siddhattha Gautama mengalami cobaan dari Mara sebelum mencapai pencerahan.

Petapa Gautama sekarang sepenuhnya yakin setelah mempunyai pengalaman sendiri akan kesia-siaan penyiksaan diri yang meskipun dianggap sangat diperlukan untuk pembebasan oleh para filsuf dan petapa pada jaman itu. Ia menyadari bahwa petapaan yang ekstrem melemahkan kecerdasan seseorang dan mengakibatkan turunnya semangat. Dia kemudian meninggalkan praktik ekstrim yang menyakitkan ini untuk selama-lama nya,Sikap yang tidak esktrim dan menjaga keseimbangan ini dikenal dengan Jalan Tengah, yang menjadi ciri menonjol dari ajaran-Nya.

Kemudian Beliau memutuskan bermeditasi dibawah pohon Bodhi dan memutuskan untuk tidak bangkit sebelum Ia mencapai pencerahan sempurna. Sang Petapa Gautama bermeditasi selama 49 hari dan pada hari terakhir, setelah 6 tahun menjadi petapa, pada bulan Waisak, Beliau mencapai pencerahan dan menjadi seorang Buddha. Ia kemudian dikenal sebagai Buddha Sakyamuni dalam tradisi Mahayana atau Buddha Gautama dalam tradisi Theravada.

BERLANGGANAN GRATIS! :
Saat ini ribuan orang telah berlangganan artikel dan merasakan manfaat positif-nya.
Masukkan E-Mail Anda di bawah ini.
Protected by Google

Jangan lupa Konfirmasi link Aktivasi yang kami kirim di E-Mail Anda!

Related Posts :

0 Response to "Pencapaian Pencerahan Buddha Siddhattha Gautama"

Post a Comment